BAB II
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita
melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan “ gejala belajar”, dalam
arti mustahilah melakukan kegiatan itu, kalau kita belajar terlebih dahulu.
Misalnya, kita mengenakan pakaian kita makan dengan menggunakan alat-alat
makan, kita berkomunikasi dengan satu sama lain dalam bahasa nasional, kita bertindak
sopan, kita menghormati bendera sang merah putih, kita mengemudika kendaraan
bermotor, dan lain sebagainya. Gejala-gejala belajar semacam itu terlalu banyak
disebutkan satu per satu karena jumlanya ribuan namun mengisi kehidupan
sehari-hari. Maka dari itu kita perlu tahu apa itu belajar, hakikat belajar dan
ciri-ciri khasnya. Tinjauan mengenai hal ini menjadi bahan pembahasan dalam
makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
yang di magsud BK belajar?
2. Apa
tujuan dari belajar?
3. Apa
fungsi belajar?
4. Apa
saja prinsip-prinsip dalam belajar?
5. Apa
saja bentuk-bentuk belajar?
C.
Tujuan
Tujuan
dari makalah ini adlah untuk mengetahui magsud dari BK belajar, tujuan belajar,
fungsi belajar, prinsip-prinsip belajar dan bentuk-bentuk dalam belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Bimbingan Konseling
Belajar
Bimbingan
adalah Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara
berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus
untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat
memahami dirinya, lingkungannya serta dapatmengarahkan diri dan menyesuaikan
diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan
potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraandirinya dan
kesejahteraan masyrakat.
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu
memahami diri dan lingkugannya ( Shertzer
and Stone 1971:40)
Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli / klien secara tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau masalah khusus maka masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi semuanya.( Menurut Winkell (2005 : 34))
Konseling
adalah pertalian timbal balik antara dua orang atau lebih dimana satu orang
sebagai pihak yang membantu dengan yang lain sebagai konseli, supaya ia dapat
memahami dirinya dan hubungannya dengan masalah yang dihadapinya pada waktu
sekarang atau yang akan datang.
Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan - perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap (menurut Winkell)
Belajar adalah suatu aktivitas
mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan,
yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan
dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konsta dan berbekas.
Setelah ditarik kesimpulan maka pengertian bimbingan
dan konseling belajar adalah bimbingan yang tujuannya untuk membantu para
individu dalam memecahkan masalah-masalah belajar.
B.
Tujuan
Layanan Bimbingan Konseling Belajar
a. Menurut teori Humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan
manusia. Proses belajar dianggap berhasil apabila si pelajar mampu
memahami dirinya dan lingkungannya. Sedangkan menurut teori belajar ; belajar
adalah usaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari
sudut pandang pengamatnya, Akan tetapi dunia modern, lebih berpegang pada teori
belajar humanistic
b. Menurut Rogers, yang terpenting dalam proses pembelajaran untuk mencapai
tujuan-tujuan belajar itu, yakni :
ü
Menjadi manusia berarti memiliki
kemampuan wajar untuk belajar
ü
Siswa yang akan mempelajari hal
bermakna bagi dirinya
ü
Pengorganisasian bahan pengajaran
ü
Belajar relevan/relative
Apabila ke semuanya di gabung, maka dapat di peroleh kesimpulan bahwa siswa
mempunyai personal untuk belajar secara wajar. Siswa belajar supaya pandai
adalah benar, dengan catatan materi pelajaran itu tidak di paksakan dan materi
pelajaran itu akan di serap sesuai kemampuan siswa. Dalam pencapaian tujuan
belajar ini sangat di harapkan adanya perorganisasikan bahan pengajaran supaya
sesuai dengan dunia persepsi siswa. Belajar relevan berarti mempelajari hal
penting bagi dirinya dan relative terhadap perubahan dunia social, semua
menuntut perubahan dan perubahan ini akan di serap siswa juga pada akhirnya.
Intinya, tidak ada paksaan lagi dalam proses pencapaian tujuan belajar.
C.
Fungsi
Bimbingan Konseling Belajar
Ada beberapa
fungsi dari bimbingan dan konseling belajar yaitu:
a.
Fungsi
kognitif
Melalui fungsi
kognitif manusia menghadapi objek-objek dalam suatu bentuk representatif yang
menghadirkan semua objek itu dalam kesadaran. Hal ini paling jelas nampak dalam
aktivitas mental berfikir.
1)
Taraf
intelegensi-daya kreatifitas.
Istilah
intelegensi dapat diartikan dalam dua cara yaitu arti luas dan arti sempit.
a)
Arti
luas: kemampuan untuk mencapai prestasi, yan
didalamnya berfikir memegang peranan. Prestasi itu dapat diberikan dalam
berbagai bidang kehidupan, seperti pergaulan sosial, teknis, perdagangan,
pengaturan rumah tangga dan belajar di sekolah.
b)
Arti
sempit : kemampuan untuk mencapai prestasi di
sekolah, yang didalamnya berfikir memegang peranan pokok. Intelegensi dalam
arti ini kerap disebut kemampuan intelektual atau kemampuan akademik.
2)
Bakat
khusus
Merupakan
kemampuan menonjol di suatu bidang tertentu, misalnya di bidang studi
matematika atau bahasa asing. Orang sering berpendapat, bahwa semua bakat
khusus merupakan sesuatu yang langsung diturunkan oleh orang tua, misalnya
bakat khusus di bidang matematika diperoleh dari orang tua melalui proses
generasi biologis. Pendapat ini ternyata tidak benar. Bakat khusus adalah
sesuatu yang dibentuk dalam kurun waktu sejumlah tahun dan merupakan perpaduan
dari taraf intelegensi pada umumnya (general ability), komponen intelegensi
tertentu, pengaruh pendidikan dalam keluarga dan disekolah, minat dari subjek
sendiri.
3)
Organisasi
kognitif
Menunjuk pada
cara materi yang sudah dipelajari, disimpan dalam ingatan, apakah tersimpan
secara sistematis atau tidak. Hal ini sangat bergantung pada cara materi
dipelajari dan diolah, makin mendalam dan makin sistematis pengolahan materi
pelajaran, makin baiklah taraf organisasi dalam ingatan itu sendiri.
4)
Kemampuan
berbahasa
Mencakup
kemampuan untuk menangkap intisuatu bacaan dan merumuskan pengetahuan dan
pemahaman yang diperoleh itu dalam bahasa yang baik, sekurang-kurangnya bahasa
tertulis. Mengingat kaitan yang ada antara berpikir yang tepat dan berbahasa
yang benar, maka tidak mengherankan bahwa siswa yang kurang mampu berbahasa,
tertinggal dibelakang dibanding dengan siswa yang berbahsa baik.
5)
Daya
Fantasi
Berupa aktifitas
kognitif yang mengandung banyak fikiran dan sejumlah tanggapan, yang
bersama-sama menciptakan sesuatu dalam alam kesadaran. Daya fantasi dibedakan
antara fantasi yang disadari dan yang tidak disadari. Misalnya, seorang
sastrawan yang mengarang kisah roman, yang bergerak dalam alam fantasi secara
sadar.
6)
Gaya
Belajar
Merupakan cara
belajar yang khas bagi siswa. Gaya belajar mengandung beberapa komponen antara
lain: gaya kognitif dan tipe belajar. Gaya kognitif adalah cara khas yang
digunakan seseorang dalam mengamati dan beraktifitas mental dibidang kognitif,
cara khas ini bersifat sangat individual yang kerap kali tidak disadari dan,
sekali terbentuk, cenderung bertahan terus.
b.
Fungsi
Konatif-Dinamik
Fungsi psikis
ini berkisar pada penentuan suatu tujuan dan pemenuhan suatu kebutuhan yang
disadari dan dihayati. Semakin tinggi tahapan perkembangan anak, semakin boleh
diharapakan bahwa siswa mampu berpartisipasi dalam proses belajar mengajar
secara aktif dengan suatu tujuan. Terdiri dari:
1). Karakter- hasrat-berkehendak
Karakter atau watak menunjuk pada suatu
aspek dalam kepribadian. Yang mana karakter ini iyalah keseluruhan hasrat pada
manusia yang terarah pada suatu tujuan yang mengandung nilai moralitas. Dalam
“berhasrat” orang mencari apa yang memberikan kepuasan padanya dan menyingkiri
apa yang tidak memuaskan baginya. Seseorang mungkin berhasrat kuat dan memiliki
kehendak yang tekun untuk mencapai sesuatu yang memberikan kepuasan padanya,
tetpi ini belum berarti bahwa orang itu berkarakter atau berwatak baik. Tujuan
yang ingin dicapai masuh harus dinilai dari segi moralitas, apakah termasuk hal
yang baik atau hal yang buruk.
2). Motivasi belajar
Iyalah keseluruhan daya penggerak psikis
didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan
kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai
suatu tujuan. Motivasi belajar memgang peranan penting dalam memberikan gairah
atau semangat dalam belajar, sehingga siswa yang bermotivasi kuat memiliki energi
banyak untuk melakukan kegiatan belajar.
c.
Fungsi
Afektif
Di dalam
perasaan manusia mengadakan penilaian terhadap semua objek yang dihadapi,
dihayatinya apakah suatu benda, suatu peristiwa atau seseorang, baginya
berharga atau bernilai atau tidak. Bila objek itu dihayati sebagai sesuatu yang
berharga maka timbulah perasaan senang. Alam perasaan seolah-olah terdiri dari
beberapa lapisan yang berbeda-beda peranannya terhadap semangat belajar.
Kenyataan ini akan diuraikan dibawah ini:
1). Temperamen
Pada setiap orang, alam perasaan memiliki
sifat-sifat umum tertentu. Ada orang yang pada umumnya cenderung berperasaan
sedih dan pesimis, ada pula yang biasanya berperasaan gembira dan optimis. Ini
dikenal dengan istilah “stemming dasar” atau nada dasar alam
prasaan yang lebih kurang menetap.
2). Perasaan
Yang dimaksud disini adalah momentan dan
intensional. Momentan berarti bahwa perasaan timbul pada saat tertentu.
Intensional berarti bahwa reaksi prasaan diberikan terhadap sesuatu, seseorang
atau situasi tertentu. Apabila situasi berubah maka prasaan berganti pula.
Misalnya, bila guru sedang memarahi siswa dalam kelas mereka mungkin merasa
takut, tapi bebrapa waktu kemudian prasaan itu hilang dan diganti perasaan
lega, bila guru menceritakan sesuatu lelucon untuk meringankan suasana yang
menjadi terlalu tegang.
3). Sikap
Yaitu orang yang bersikap tertentu
cenderung menerima atau menolak suatu objek bedasarkan penilaian terhadap objek
itu sebagai hal yang berguna atau berharga baginya atau tidak. Dengan demikian
siswa yang memandang belajar disekolah pada umumnya, atau bidang studi
tertentu, sebagai sesuatau yang sangat bermanfaat baginya, akan memiliki sifat
positif. Bagitu juga dengan sebaliknya.
4). Minat
Yaitu diartikan sebagai kecenderungan
subyek yang menentap untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan
tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu.
d.
Fungsi
Sensorik-Motorik
Kemampuan yang
dimiliki siswa dibidang psikomotorik, juga merupakan bagian dari keadaan awal
dipihak siswa, yang dapat menghambat atau membantu disemua proses belajar
mengajar atau paling sedikit, dalam proses belajar yang harus mengahasilkan
keterampilan motorik. Perolehan kemampuan yang dimaksud antara lain, kecepatan
menulis, kecepatan berbicara dan artikulasi kata-kata, menggunakan alat-alat
menggunting, memotong dan lain-lain.
D.
Prinsip
Bimbingan dan Konseling Belajar
Agar kegiatan
belajar dan pembelajaran berhasil mengantarkan siswa mencapai tujuan pelajarn,
maka salah satu faktor yang harus dipahami oleh guru adalah prinsip belajar.
Tanpa memahami prinsip belajar ini, adalah sulit bagi guru untuk menyusun
strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan teknik evaluasi yang sesuai
dengan karakteristik kelas dan materi yang disampaikan. Berikut beberapa
prinsip belajar:
·
Pembalajar adalah
memotivasi dan membarikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri.
·
Pepatah Cina
mengatakan: “saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, dan saya lakukan
saya paham”. Mirip dengan itu john deweye mengembangkan apa yang dikenal dengan
“ learning by doing”.
·
Semakin banyak alat
deria atau indra yang di aktifkan dalam kegiatan belajar, semakin banyak
informasi yang diserap.
·
Belajar dalam banyak
hal adalah suatu pengalaman. Oleh sebab itu keterlibatan siswa merupakan salah
satu faktor penting dalam keberhasilan belajar.
·
Materi akan lebih mudah
dikuasai apa bila siswa terlibat secara emosional dalam kegiatan belajar
pembelajaran. Siswa akan terlibat secara emosional dalam kegiatan belajar
pembelajaran jika pelajaran adalah bermakna baginya.
·
Belajar dipengaruhi
oleh motivasi dari dalm diri atau intrinsik dan dari luar atau ekstrinsik siswa.
·
Semua manusia, termasuk
siswa, ingin dihargai dan dipuji. Penghargaan dan pujian merupakan motivasi
instriksik bagi siswa.
·
Makna pelaharan bagi
diri siswa merupakan motivasi dalam yang kuat sedangkan faktor kejutan (faktor
“ aha”) merupakan motivasi luar yang efektif dalam belajar.
·
Belajar “ is enhanced
by challenge and inhibilited by threat”.
·
Setiap otak adalah
unik. Karena itu setiap siswa memliki persamaan dan perbedaan cara terbaik untk
memahami pelajaran.
·
Otak akan lebih mudah
merekam input jika dalam keadaan santai atau rileks dari pada dalam keadaan
tenang.
E.
Bentuk
– bentuk Bimbingan dan konseling belajar
Ø adapun
bentuk – bentuk belajar menurut A. De
Block adalah sebagai berikut:
a.
Bentuk-Bentuk
Belajar Menurut Fungsi Psikis
1. Belajar
dinamik atau konatif
Ciri khasnya
terletak dalam belajar berkehendak sesutau secara wajar, sehingga orang tidak
menyerah pada sembarang menghendaki dan juga tidak menghendaki sembarang hal
berkehendak adalah suatu aktifitas psikis, yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan
yang disadari dan dihayati. Kebutuhan itu dapat merupakan kebutuhan biologis,
seperi kebutuhan mengistirahatkan tubuh. Kebutuhan itu dapat juga merupaka
kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan akan pengetahuan dan lingkungan hidup
yang aman.
2. Belajar
afektif
Salah satu ciri dari
belajar afektif ialah belajar menghayati nilai dari suatu objek yang dihadapi
melalui alam perasaan, entah objek itu berupa orang, benda tau peristiwa, ciri
yang lain terletak dalam belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi
yang wajar.
3. Belajar
kognitif
Ciri khasnya
terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan suatu bentuk representasi
yang mewakili semua objek yang dihadapi entah itu orang, benda atau peristiwa.
Segala objek itu direpresentasikan atau dihadirkan dalam diri seseorang melalui
tanggapan, gagasan, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental.
4. Belajar
sensomotorik
Ciri khasnya
terletak dalam belajar menghadapi dan menangani aneka objek secara fisik,
termasuk kejasmanian manusia sendiri. Misalnya, menggerakkan anggota badan
sambil naik tangga atau berenang.
b.
Bentuk-Bentuk
Belajar Menurut Materi yang Dipelajari.
1. Belajar
teoritis
Bentuk belajar
ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta atau penegtahuan dalam
suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami untk memecahkan
problem, seperti yang terajadi dalam bidang-bidang studi ilmiah. Misalya konsep
bujur sangkar mencakup semua bentuk persegi empat, iklim dan cuaca berpengaruh
terhadap tanaman-tanaman.
2. Belajar
teknis
Bentuk belajar
ini bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam menangani dan
memegang benda-benda serta menyusun bagian-bagian materi menjadi suatu
keseluruhan. misalnya, belajar mengetik dan membuat suatu mesin ketik. Beljara
semacam ini juga disebut belajar motorik, belajar ini mencakup fakta seperti
siapa pembuat mesin uap pertama kali.
3. Belajar
bermasyarakat
Bentuk belajar ini
bertujuan mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama,
dan memberikan kelonggaran kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Belajar ini mencakup fakta seperti didirikannya badan perserikatan bangsa untuk
mengatur kehidupan bangsa-bangsa dalam taraf internasional;konsep-konsep, seperti
solidaritas, penghargaan dan kerukunan: relasi-relasi, seperti hubungan dalam
badan-badan pemerintahan; metode
kehidupan bersama , seperti sopan santun.
4. Belajar estetis
Bentuk belajar
ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati kehidupan di
berbagai bidang kesenian. Seperti nama Mozart sebagai pengubah musik klasik.
c.
Bentuk-Bentuk
Belajar yang Tidak Begitu Disadari
1. Belajar
insidental
Belajar insidental
berlangsung bila orang mempelajari sesuatu dengan tujuan tertentu, tapi di
samping itu juga belajar hal lain yang
sebenarnya tidak menjadi sasaran. Misalnya seseorang mencari informasi dalam
surat kabar mengenai film-film yang bermutu, tapii kebetulan juga melihat
kepala berita :sekretaris jenderal PBB meninggal”. Hasil belajar insidental
biasanya terbatas pada pengetahuan tentang fakta dan data.
2. Belajar
dengan mencoba-coba
Belajar
coba-coba dapat dimagsudkan sebagai bentuk belajar melalui rangkaian
eksperimen.
3. Belajar
tersembunyi
Belajar tersembunyi,
yang dalam bahasa Inggris disebut “latent learning”, dipelajari sesuatu
tanpa ada intensi/ magsud untuk belajar hal itu, namun tidak adanya magsud
namun hanya terdapat pada pihak oran yang belajar. Dalam mengajar di sekolah guru
dapat merencanakan supaya siswa belajar sesuatu tanpa mereka menyadari sedang belajar
yang dimagsudkan oleh guru. Pada belajar tersembunyi hanya siswa lah yang tidak
mempunyai magsud.
Ø bentuk
– bentuk belajar menurut Robert M. Gagne
adalah sebagai berikut:
1.
Belajar Responden.
Dalam belajar ini,
suatu respon dikeluarkan oleh suatu stimulus yang telah dikenal. Jadi,
terjadinya proses belajar dikarenakan adanya stimulus. Misalnya Maya bisa
menjawab pertanyaan yang diberikan oleh gurunya dengan benar. Kemudian guru
tersebut memberikan senyuman dan pujian kepadanya. Akibatnya Maya semakin giat
belajar. Senyum dan pujian guru ini merupakan stimulus tak terkondisi. Tindakan
guru ini menimbulkan perasaan yang menyenangkan pada diri Maya sehingga ia
membuat dia lebih giat lagi dalam belajar.
2.
Belajar Kontiguitas
Belajar dalam bentuk
ini tidak memerlukan hubungan stimulus tak terkondisi dengan respons. Asosiasi
dekat (contiguous) sederhana antara stimulus dan respons dapat menghasilkan
suatu perubahan dalam perilaku individu. Hal ini disebabkan secara sederhana
manusia dapat berubah karena mengalami peristiwa-peristiwa yang berpasangan.
Belajar kontiguitas sederhana bisa dilihat jika seseorang memberikan respon
atas pertanyaan yang belum lengkap, seperti ”dua kali dua sama dengan?” Maka
pasti bisa menjawab ”empat”. Itu adalah contoh asosiasi berdekatan antara
stimulus dan respon dalam waktu yang sama.
Bentuk belajar kontiguitas yang lain adalah “stereotyping”, yaitu adanya peristiwa yang terjadi berulang-ulang dalam bentuk yang sama, sehingga terbentuk dalam pemikiran kita. Seringkali sinetron televisi memperlihatkan seorang ilmuwan dengan memakai kacamata, ibu tiri adalah wanita yang kejam. Maka sinetron televisi menciptakan kondisi untuk belajar stereotyping, padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
3.
Belajar
Operant
Belajar bentuk ini
sebagai akibat dari reinforcement, bukan karena adanya stimulus, sebab perilaku
yang diinginkan timbul secara spontan ketika organisme beroperasi dengan
lingkungannya. Maksudnya perilaku individu dapat ditimbulkan dengan adanya
reinforcement segera setelah adanya respon. Respon ini bisa berupa pernyataan,
gerakan dan tindakan. Misalnya respon menjawab pertanyaan guru secara sukarela,
maka reinforcer bisa berupa ucapan guru “bagus sekali”, “kamu dapat satu poin”,
dan sebagainya.
4. Belajar Observasional
Konsep belajar ini
memperlihatkan bahwa orang dapat belajar dengan mengamati orang lain melakukan
apa yang akan dipelajari. Misalnya anak kecil belajar makan itu dengan
mengamati cara makan yang dilakukan oleh ibunya atau keluarganya.
5. Belajar Kognitif
Bentuk
belajar ini memperhatikan proses-proses kognitif selama belajar. Proses semacam
itu menyangkut “insight” (berpikir) dan “reasoning” (menggunakan logika
deduktif dan induktif). Bentuk belajar ini mengindahkan persepsi siswa,
insight, kognisi dari hubungan esensial antara unsur-unsur dalam situasi ini.
Jadi belajar tidak hanya timbul dari adanya stimulus-respon maupun
reinforcement, melainkan melibatkan tindakan mental individu yang sedang
belajar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ø Bimbingan
dan konseling belajar adalah bimbingan yang tujuannya untuk membantu para
individu dalam memecahkan masalah-masalah belajar.
Ø Fungsi
BK belajar adalah :
1. Fungsi
kognitif
2. Fungsi
konatif-dinamik
3. Fungsi
afektif
4. Fungsi sensorik-motorik.
Ø prinsip
belajar siantaranya:
·
Pembalajar adalah memotivasi
dan membarikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri.
·
Pepatah Cina
mengatakan: “saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, dan saya lakukan
saya paham”. Mirip dengan itu John Dewey mengembangkan apa yang dikenal dengan
“ learning by doing”.
·
Semakin banyak alat
deria atau indra yang di aktifkan dalam kegiatan belajar, semakin banyak
informasi yang diserap.
·
Belajar dalam banyak
hal adalah suatu pengalaman. Oleh sebab itu keterlibatan siswa merupakan salah
satu faktor penting dalam keberhasilan belajar.
Ø Bentuk-bentuk
belajar menurut A De Block:
1. Bentuk-bentuk
belajar berdasarkan fungsi psikis
2. Bentuk-bentuk
belajar berdasarkan materi yang dipelajari
3. Bentuk-bentuk
belajar berdasar yang tidak begitu
disadari
DAFTAR PUSTAKA
Zamroni.2008.Esensi
Praktis Belajar Pembelajaran. Bandung: Humaniora, Edisi revisi
Winkell. W.S.2007.Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi, edisi 9